Siman

Oleh : Hamni Azmi

“Keihlasan mempunyai kilauan dan sinar, meskipun ribuan mata tak melihatnya”

Hari Selasa kedua tiap bulan adalah jadwal rutin Puskesmas Keliling (Pusling) ke desa Pandu. Saat sedang proses pengobatan, tiba-tiba semua orang dikejutkan dengan teriakan seseorang yang memanggil Amir perawat desa Pandu.

“Pak Mantri…, Pak Mantri…, Siman mau bakar rumah Emaknya,” kata Bapak itu terengah-engah.

“Sekarang Siman dipasung oleh warga Pak.” Lanjutnya.

Aku memang sudah mendapat laporan dari Pak Amir bahwa di desa ini ada pasien dengan gangguan jiwa dan sering mengamuk. Aku bergegas menuju rumah keluarga pasien dan menemukan Siman dalam keadaan terpasung, tangan dan kakinya dipasangi rantai.

Aku dan Pak Amir meminta izin keluarga pasien untuk menanyakan beberapa hal kepada mereka. Rupanya, Siman mengamuk pertama kali adalah karena istrinya pergi dari rumah.

Sejak saat itu, Siman sering ngomong sendiri. Jalan keliling desa. Kadang dia juga berteriak-teriak, menangis dan tertawa sendiri. Itu terjadi sekitar lima tahun yang lalu.

Namun dua bulan terakhir, Siman bersikap lebih agresip, dia mulai menyerang, mengganggu dan membakar rumahnya sendiri. Hal itulah yang membuat keluarga dan kepala desa sepakat untuk melakukan pengamanan terhadap Siman dengan cara memasungnya. Kedua tangan dan kaki Siman diikat dengan rantai.

Keluarga sudah melakukan pengobatan ke orang pintar, ke dukun, di rukiyah namun semuanya tak membawa kebaikan bagi Siman. Pernah dibawa berobat ke dokter namun Siman menolak untuk meminum obat. Dan akhirnya keluarga pasrah, dan melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan terhadap Siman.

Hal ini dilakukan keluarga agar masyarakat di desa Pandu tetap aman, tidak merasa was-was atas kelakuan Siman.

Menurut cerita Emak, Siman adalah anak yang baik. Sejak kecil, ia tidak pernah melawan dengan orangtua, sopan dan tidak nakal. Saat remaja pun Siman tidak mau main dengan teman-teman yang suka nongkrong, ia lebih suka tinggal di rumah menemani Emak menjaga warung. Setelah menikah pun, menurut Emak, Siman dan istrinya tampak bahagia. Dia sangat mencintai istrinya.

Siman hanyalah seorang pekerja serabutan, yang penghasilannya pun tidak pasti. Sehingga ia tidak selalu bisa memenuhi segala kebutuhan istrinya. Mungkin inilah yang mangakibatkan istrinya tidak bisa bertahan menemani Siman dan memilih meninggalkannya.

Siman yang begitu mencintai istrinya, sangat terpukul saat suatu sore sepulang dari kerja, Siman tidak menemukannya di rumah.

Ia panik, bingung, setiap orang yang ditemui ditanya dimana keberadaan istrinya.

“Kamu lihat Isah ga?
Isah kemana?” begitu selalu pertanyaannya. Ia terus berjalan, kemanapun tanpa tujuan. Dan kalau tidak diajak pulang oleh keluarga, Siman tidak akan pulang ke rumah.

Keinginannya untuk bertemu dengan sang istri, menjadikan Siman lupa dengan kehidupannya sendiri. Tidak jarang ia berteriak memanggil Isah istrinya di dalam tidur. Ia menangis meraung-raung seperti anak kecil.

Tidak pernah perduli dengan kebersihan diri lagi. Siman lupa mandi, lupa makan, lupa beribadah, lupa segalanya. Hanya Isah yang ada dan memenuhi pikirannya. Hingga beberapa bulan terakhir Siman mulai liar, ia sering mengamuk, memukul orang yang ditemuinya dan yang tersering adalah Emak. Karena Emaklah yang selalu ada didekatnya. Bahkan Siman pernah membakar rumahnya sendiri sambil berteriak memanggil nama Isah.

Tak terasa mataku berkaca, aku larut dalam cerita Siman. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku menangani kasus orang dengan gangguan jiwa.

Dan setiap kali bertemu dengan kasus seperti ini, aku selalu masuk ke dalam cerita mereka. Hati ini selalu tersentuh dan ingin menawarkan persahabatan. Begitu pula dengan kasus Siman.

Aku minta izin kepada Emak untuk menemui Siman. Pak Amir dan Kepala Desa melarangku menemui Siman.
“Tidak usah Bu Dokter, Ibu di sini saja, biar kami yang akan menemui Siman.” Pak Amir melarangku dengan was-was.

“Pak Amir, percayalah semua akan baik-baik saja.” kucoba meyakinkan mereka.

Dan kami pun diantarkan menuju sebuah pondok terbuka. Tampak dari kejauhan seorang laki-laki berumur sekitar tigapuluhan sedang duduk berselonjor dengan tangan dan kaki terpasang rantai yang longgar.

Keadaan Siman cukup tenang, aku mulai mendekat. Ku tarik nafas dalam, kubuka lebar hati ini untuk menampung keluhan Siman, dan mengucap basmalah agar dilancarkan tugas kali ini.

Pak Amir dan Pak Kades berjaga-jaga kalau saja tiba-tiba Siman menyerang.

Kuucap salam kepada Siman. Ia mengangkat wajahnya, dan menatap dengan tajam. Pak Amir dan Pak Kades semakin waspada.

Berbeda dengan yang kurasakan, tatapan matanya seolah meminta pertolongan, mengharap belas kasihan.

“Mas Siman, perkenalkan saya Helwa dari Puskesmas, bisa ngobrol sebentar Mas?”
Aku memulai percakapan.

Sambil menunggu jawaban, kucoba duduk di balai yang sama dengannya, lebih kurang dua meter dari duduknya. Jarak yang cukup aman buatku.

Mataku tak lepas dari Siman, “Sehat Mas Siman?” aku melanjutkan pertanyaan. Tak kusangka, Siman menganggukkan kepala pertanda ia memahami pertanyaanku.

Aku menanyakan kebiasaan hariannya, apakah sudah makan, mandi, hatinya senang atau sedih. Dan semua pertanyaanku mendapat jawaban. Hingga Siman menceritakan tentang kepergian istrinya, ia menangis, meraung menyebut nama istrinya Isah. Ia mulai berontak, menarik rantai yang mengikat anggota tubuhnya.

Dengan sedikit bekal ilmu bela diri yang kumiliki, aku beranikan diri mendekatinya dari belakang, mencoba mengaplikasikan ilmu SEFT yang pernah kupelajari. Aku ketuk titik-titik utama di bagian kepala dan wajahnya sampai tuntas. Satu set terapi, Siman mulai tenang. Ku coba masuk ke set kedua, dan Siman semakin tenang. Pak Amir dan yang hadir saat itu tampak tegang, mengkhawatirkan keadaanku apabila diserang Siman.

Bersyukur Siman sudah terkendali, dan jiwanya pun lebih tenang. Aku meminta Siman berkunjung ke klinikku di Puskesmas, kalau dia merasa ada yang ingin disampaikan.

Terakhir aku sodorkan tangan untuk berpamitan. Dan Siman pun menyambutnya.
Kuminta Pak Amir untuk lebih sering mengunjungi Siman, dan meminta keluarga untuk terus memperhatikan kesehatan Siman. Sambil memberikan obatnya secara rutin.

Perhatian dari orang terdekat sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya pengobatan nantinya.
Setelah satu bulan pengobatan rutin, Siman sudah tidak lagi dipasung, ia tinggal bersama Emak dan kakaknya. Walaupun masih belum bisa berkomunikasi dengan lancar, tapi Siman sudah menunjukkan perubahan yang luar biasa.

Sebagai seorang dokter atau tenaga kesehatan lainnya, pengobatan dengan menghadirkan hati sangatlah penting selain obat itu sendiri. Kadang seorang pasien sudah akan merasa lebih baik saat melihat senyum ramah dokternya, sapa santun sang bidan, dan obrolan yang renyah si perawat. Hati yang ihlas dan terbuka untuk menolong para pasien akan menghilangkan setengah sakitnya. Keihlasan mempunyai kilauan dan sinar, meskipun ribuan mata tak melihatnya.

Teruslah memperbaiki niat dalam melaksanakan tugas mulia ini, karena niat baik akan berbalas kebaikan yang berlipat.

Teruntuk tenaga kesehatan di seluruh pelosok negeri
Tetaplah berikan yang terbaik untuk negeri ini

Ditulis di desa perjuanganku Pada 04 April 2018

Tulisan ini diabadikan dalam sebuah buku “My Medical Story” Kisah-kisah menggugah seputar dunia medis.

Selamat hari Kesehatan Mental Seduania, 10 Oktober 2020

Sehat raganya, sehat jiwanya, sempurna amal dan ilmunya.

0Shares