Selamat Berjuang Nak

Oleh : Hamni Azmi

Menjadi orang tua yang anaknya sekolah di pondok pesantren memang sudah keputusan saya dan suami. Bahkan sebelum menikah pun saya memang sudah mbatin bahwa anak-anak saya nanti akan disekolahkan di pesantren. Dan Alhamdulillah Allah mudahkan untuk mewujudkannya.

Sejak duduk di kelas 4 SD kami sudah menggaungkan, bahwa mereka akan masuk pesantren setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar. Sehingga di dalam memori mereka sudah terekam selama bertahun-tahun. Bahwa sekolah lanjutan bagi mereka adalah pesantren. Walaupun saat tiba waktunya, hal itu masih tetap terasa berat. Bahkan hingga saat ini pun setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan kami, rasa berat itu masih tetap ada. Namun segala rasa harus diusahakan agar dapat dikendalikan.

Alhamdulillah perjuangan mengantarkan mereka menjadi salih salihah melalui wasilah belajar di pondok pesantren sudah masuk tahun keenam untuk si Kaka dan tahun kedua untuk si Mas. Perjalanan dan perjuangan yang panjang ternyata. Dan sekali lagi Allah kuatkan kami sekeluarga untuk menjalaninya.

Setiap akan berakhirnya liburan. Kembali harus menguatkan hati dan jiwa kami juga mereka. Menyampaikan lagi bahwa perjuangan ini masih panjang. Masih harus terus berlangsung. Tak ada pilihan untuk kembali ke rumah sebelum menyelsaikan tugas menuntut ilmu.

Begitu pun di masa pandemic ini, di saat Almamater telah memanggil mereka untuk kembali menuntut ilmu. Mau tidak mau, siap tidak siap. Mereka harus disiapkan, mereka harus dikuatkan. Untuk menjalani kehidupan baru di sana nanti.
Segala usaha negosiasi telah dilaksanakan dari segala penjuru. Namun pihak pesantren tetap akan memanggil putra putri kami pada tanggal 16 Juni nanti.

Perasaan campur baur, hati yang tidak karuan. Ditambah kabar dari banyak orangtua di luar sana dengan pendapat dan pemikiran mereka masing-masing. Sempat membuat kami juga hampir goyah.
Namun, kembali mengadukan segalanya kepada yang memiliki kekuasaan. Menjadi kuat lagi, menjadi yakin kembali.

Ada satu hal yang membuat kami insya allah yakin untuk mengantarkan anak-anak ini kembali ke pesantren. Yaitu Al quran. Alhamdulillah selama di rumah saja, ayat-ayat al quran sudah menjadi teman mereka Sehari-hari. Telah masuk ke dalam pikiran dan hati mereka.

Program karantina tahfiz selama Di Rumah Saja dengan mentor hanya seorang emak saja. Menurut saya sudah cukup berhasil. Walau mungkin kalau dibandingkan apabila dibimbing oleh mentor yang asli seorang hafiz quran tentu hasilnya akan lebih gemilang lagi.

Namun saya masih sangat bersyukur dengan tabungan selama liburan ini, semoga bisa menjaga anak-anak kami saat jauh dari pandangan mata.

Hati Ibu dan Bapak ikhlas melepas kalian untuk mereguk lautan ilmu di sana bersama Al quran.

Segala pembiasaan “Isamic Life Style” telah kami berlakukan, insya pembiasaan selama hampir 3 purnama ini telah mendarahdaging dalam diri mereka.

Terus pertahankan Life Style itu Nak, tak perlu bingung saat melihat teman yang tidak menerapkannya. Karena segala yang kita usahakan akan seiring dengan yang akan kita dapatkan.

Saat kamu mencuci tangan sebelum makan, maka kamu sedang melindungi diri dari kuman yang menempel pada tanganmu agar tidak masuk ke dalam tubuh.

Saat kamu menggunakan masker, sesungguhnya kamu sedang melindungi orang lain dari kuman yang keluar dari mulut dan pernapasanmu. Sebuah bentuk kepedulian kepada teman-temanmu.
Dan peduli pada dirimu sendiri.

Murajaah setiap waktu, di setiap kegiatanmu, agar al quran selalu menemani dalam keadaan apapun. Sesungguhnya dalam setiap ayat alquran, terdapat perlindungan Allah yang Maha Kuat.

Doa Ibu dan Bapak selalu dilangitkan untuk kalian, Allah akan selalu menjaga kalian.

Untuk semua orang tua yang sedang berjuang melepas anak-anaknya menuntut ilmu di pondok pesantren, Yakinkan hati, bahwa Allah akan menjaga mereka, ushakan yang terbaik dan terus berbagi kebaikan. Agar kebaikan selalu mengiringi kita dan anak-anak di sana. Insya allah.

Kami titipkan kalian kepada Dia yang memiliki jiwa dan raga kalian.

Selamat Berjuang Anak-anak titipan Allah.

Dhiaelwidad.com/ Hamni Azmi.

0Shares