Orangtua – Anak Favorit

Oleh : Masayu
Pendidik SIT Dhia El widad

Kehidupan manusia memiliki berbagai fase yang menyenangkan. Sungguh kebahagiaan telah melekat pada semua orang. Semakin pandai bersyukur maka nikmat-Nya kian berlimpah.

Keluarga adalah batu-bata pertama fondasi peradaban bangsa.
Tempat berkumpul orangtua dan anak untuk belajar menghormati yang lebih tua dan menyayangi sesama. Rumah merupakan madrasah utama, sekolah andalan generasi harapan bangsa.

Komunikasi sebagai jembatan penyelaras hubungan antara ayah, ibu, anak baik kakak maupun adik, kakek, nenek, atau kerabat lainnya yang tinggal serumah. Terkadang terdapat perbedaan dalam menyikapi sesuatu hal, misalnya tentang tempat liburan atau pembuatan jadwal waktu beribadah, bermain dan belajar.

Kebijaksanaan memerlukan kompromi atau duduk bersama orangtua dalam membuat kebijakan agar bisa mendengarkan keinginan anak. Orangtua berusaha bijak menyikapi tingkah polah anak-anak kalaupun memberikan hukuman tidak sampai melemahkan jiwanya. Hukuman berdasarkan kesepakatan, tidak melukai fisik dan psikologi buah hati.

Anak-anak selayaknya memiliki kesadaran berbuat baik melalui pembiasaan contoh keteladanan orang rumah, pendidikan keluarga sejak dini. Penanaman sifat menghargai berkembang dengan pemberian penghargaan menimbulkan kegembiraan. Contohnya ketika ada ungkapan bahwa Ayah paling kuat, masakan Ibu paling enak atau si sulung yang rajin mengaji.

Orangtua favorit, anak favorit dan keluarga-keluarga bahagia, Indonesia berdaulat adil dan makmur. Kasih-sayang kian erat antaralain dengan adanya komunikasi harmonis dan sifat saling menghargai. Bila mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), favorit berarti unggulan, kegemaran atau kesayangan.

Ada tiga tahapan perkembangan anak dengan mengibaratkan rumah sebagai kerajaan, yakni:

Fase Raja (0-6 tahun)
Pada masa ini orangtua hampir melayani semua kebutuhan anak.

Fase Prajurit (7-12 tahun)
Panglima atau komando adalah orangtua yang siap mengarahkan anak mulai mandiri.

Fase Penasehat (12 tahun keatas)
Anak dan orangtua seumpama sahabat yang siap mendengar dan didengar. Bagai sahabat/kawan yang bisa saling menasehati, bercerita dengan tetap menghormati.

Bentuk lain penghargaan terhadap anak adalah memberikan kesempatan mereka bermain. Sebagaimana HR. Tirmidzi :

Rasulullah SAW bersabda :
“Keringat anak (karena bermain) di waktu kecilnya akan menambah kecerdasan di waktu besarnya”.

Ternyata Rasulullah SAW sudah lebih dahulu menjelaskan betapa pentingnya bermain bagi anak. Begitulah yang diungkapkan oleh Mahmud Al-Khal’awi dan Muhammad Sa’id Mursi dalam buku Mendidik Anak dengan Cerdas.

Orangtua bijak, unggul dan penyayang mampu melahirkan buah hati unggulan dalam keimanan, akhlak dan keilmuan. Tantangan arus globalisasi tak akan menjadikannya rapuh karena kemantapan jiwa. Keluarga-keluarga yang saling menyayangi, label favorit tanpa perlu menunggu penilaian dari luar. Anak favorit bonus dari Tuhan buat Ayah-Bunda yang mampu mendidik dan menemani keseharian buah hati sepenuh cinta yang tulus.

Dhiaelwidad.com / Masayu, S. Pd.I / Pendidik SIT Dhia El- Widad

0Shares