New Normal atau Islamic Life Style?

Oleh : Hamni Azmi

Sudah lima purnama Si Corona berkelana di bumi Nusantara. Ia bebas berkeliling kemanapun ia suka. Ke rumah gedongan hingga ke kampung di pinggiran. Ke kota metropolitan hingga ke plosok desa sangat terpencil. Menjumpai para pejabat hingga rakyat jelata. Menemui orang kaya hingga masyarakat yang papa. Mendatangi orang yang berpendidikan tinggi hingga yang buta aksara. Mengunjungi yang sudah tua hingga yang baru lahir ke dunia.

Tak peduli siapa saja, di mana saja, kapan saja. Kalau ada kesempatan ia akan gerak cepat menyerang dan memasukkan virusnya ke dalam diri seseorang.

Kebiasaan yang telah diketahui, diajarkan, dibiasakan saat masa lalu. Mungkin telah banyak dilupakan. Kebiasaan hidup bersih dan sehat. Kini digaungkan kembali untuk rajin mencuci tangan, menggunakan masker bagi siapa saja terutama yang sakit. Lebih banyak di rumah kecuali yang memang ada keperluan ke luar rumah. Tidak bersalaman, cipika cipiki, menutup seluruh permukaan tubuh.

Istilah “New Normal” menjadi begitu ramai dibicarakan di semua kalangan. Dengan pemahaman masing-masing.
Ada yang menganggap bahwa virus ini lama akan musnah maka, dengan melaksanakan kebiasaan baru “New Normal” makan mereka akan aman untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Ada juga yang mengangap bahwa “New Normal” ini adalah Normal seperti keadaan sebelum adanga wabah. Sehingga kebiasaan menggunakan masker, menghindari kerumunan, mencuci tangan menjadi terabaikan lagi. Cuek lagi aja. Kaya dulu-dulu.

Kebiasaan “New Normal” ini mengembalikan kita kepada khasanah kebiasaan ummat Islam. Tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram, menutup aurat hingga ke wajah, rajin mencuci tangan seperti kita melakukan wudhu, lebih banyak di rumah daripada berada di luar. Ini yang memang diajarkan Nabi sejak zaman dahulu. Yang saat ini telah luntur. Hingga Allah hadirkan Corona untuk mengembalikan kebiasaan itu lagi.

Kini kita sudah jarang bahkan mungkin tak lagi melihat ada yang memperlihatkan aurat dengan santainya. Sudah berkurang orang yang kumpul-kumpul di klub-klub malam dan tempat terlarang lainnya. Tak ada lagi bersentuhan dengan yang bukan mahram. Dan inilah yang memang diinginkan oleh Allah. Namun karena kita lambat sadarnya akhirnya Allah mengutus Corona untuk mengingatkan kita semua.

Walaupun Corona ini adalah bala dari Allah, tapi tak mungkin tanpa tujuan Allah turunkan ke muka bumi. Selalulah berusaha melihat sisi positif, hikmah dalam setiap kejadiannya.

Apakah kita termasuk orang yang dapat memetik hikmah dalam setiap kejadian hidup yang menjadikan diri lebih mendekat kepada Allah. Semoga.

Wallahu A’lam Bis sawab

Dhiaelwidad.com/ Hamni Azmi

0Shares