Muqim

Oleh : Hamni Azmi

Maklumat pertama dari Pesantren tempat si Kaka mondok baru saja di share di grup orang tua santri. Berisi tentang masa lock down yang mulai diberlakukan sejak tanggal 20 Februari 2020.

Artinya pesantren ditutup untuk semua kunjungan orang tua, perizinan ke luar, penerimaan kiriman baik barang atau pun uang cash. Sistem semua pembayaran harus dilakuakan via online.

Ini adalah salah satu cara pihak pesantren untuk melindungi para santri dari mewabahnya virus corona di Indonesia. Aku bisa memahami keputusan ini, dan memang harus mendukung apa yang ditetapkan pihak pesantren.

Untunglah sebelum masa lock down, kami sudah mengirimkan segala keperluan Kaka dan telah membayar semua kewajiban pada bulan itu melalui rekening.

Satu bulan pertama masih dirasakan mampu menahan rindu. Menghalau kerinduan dengan mengirimkan doa kepadanya setiap saat hati merasa pilu. Memasuki bulan kedua, dada makin terasa sesak. Setiap kali makan bersama keluarga atau duduk dalam diam, selalu diakhiri dengan uraian air mata. Rindu ini benar-benar menyiksaku.

Maklumat kedua diumumkan pada tanggal 10 April 2020. Isinya menyampaikan bahwa santri kelas 5 tidak mendapat izin perpulangan. Mereka wajib untuk muqim selama Ramadhan dilanjutkan sampai tahun ajaran berikutnya.

Lemas lunglai seluruh tubuh, membaca maklumat tersebut. Rindu ini begitu menggebu. Melepasnya di sana dalam suasana Ramdhan dan Idul Fitri. Melalui hari-hari kami di sini tanpa riuh canda tawa bersama.

Corona membuat semua orang yang ingin mudik harus menahan diri, memendam kerinduan akan kampung halaman, kerinduan akan keluarga tercinta.

Corona membuat rasa rindu kepada keluarga begitu membuncah, menyadarkan bahwa kebersamaan selama ini begitu berharga. Tak dapat digantikan dengan apa pun jua.

Corona yang merupakan mahluk ciptaan Allah telah membuat kita sadar bahwa anak-anak, keluarga, segala kekuasaan dan kekayaan tidak mampu melawan apa yang telah ditetapkan Allah.

Allah Maha Berkehendak, dan ini pasti adalah yang terbaik bagi kita hambanya.

Allah tidak akan menguji hambanya, melebihi kemampuan si hamba. Dan Allah yakinkan bahwa kita mampu melewati semua ini bersama-sama.

Biarlah tahun ini, tak dapat bertemu putri kami tercinta, biarlah tahun ini tak bisa melalui Ramadhan bersama di kampung halaman. Asalkan kamu Nduk, Ibu dan Bapak di sini tetap sehat.

Biarlah rindu ini menyesakkan dada, memenuhi semua rongganya. Biarlah Allah menjadi saksi bahwa Ibu begitu menyayangimu, begitu mencintaimu.

Namun kali ini cinta kita diungkapkan dengan cara berbeda. Dengan tetap berada disana, tidak ada perjalanan itu akan lebih baik untukmu saat ini. Ibu yakin, di sana kamu lebih aman daripada mudik ke rumah kita.

Ibu ihlas, menitipkanmu di asrama pesantren karena itu adalah yang terbaik saat ini. Tak mengapa, kita berpisah sesaat, semoga Allah segera pertemukan kita kembali secepatnya.

Yakinlah, bahwa Allah pasti akan mengangkat wabah ini segera. Insya Allah.

Teruntuk semua santri yang tidak bisa mudik ke rumah orang tua, dan ayah bunda yang menahan rindu karena tak dapat bertemu buah hatinya. Semoga selalu dikuatkan dan mari terus berharap semoga badai ini segera berakhir. Dan memberikan kebahagiaan lebih dalam. Amin ya rabbal alamin.

Dhiaelwidad.com/ Hamni Azmi

0Shares