Kumandang Keagungan (Bagian kedua) Seuntai Makna Idul Adha

Oleh : Masayu

Dzulqa’idah telah Berlalu.
Rotasi bulan pada porosnya merupakan bagian takdir-Nya membawa perputaran kehidupan bumi sampai waktu yang telah tertulis di Lauhul Mahfuz. Dunia hanyalah sementara karena akhirat tujuan sesungguhnya kehidupan abadi.

Pertemuan dan perpisahan seumpama koin atau logam bundar yang mempunyai deskriptif atau gambaran yang berbeda.

Pertemuan biasanya menyajikan kegembiraan, kehangatan dalam relasi, penuh senyuman, bersyukur atas persaudaraan, berprasangka baik, menghindari pilih kasih, pikiran yang jenih, membuang egois/emosi, dan berpadu dalam menebar kebaikan tanpa menyakiti perasaan apalagi fisik orang lain.

Sebaliknya perpisahan identik dengan kesedihan, kekecewaan atau penyesalan.

Kebersamaan indah dalam naungan-Nya. Tuhan Yang Maha Kuasa penentu setiap hal yang terjadi akan membawa anugerah istimewa.

Dzulhijjah tiba mempresentasikan keagungan.
Apakah ada pertemuan tanpa perpisahan? Kitabullah menunjukkan bukti dahsyat bagi hamba-Nya yang beriman akan adanya pertemuan hakiki.

Beberapa ayat Al-Quran sebagai landasannya.
Sejarah Islam mencatat tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah. Ada kisah Nabiyullah Ibrahim as. begitu lama mendambakan keturunan, lalu lahirlah bayi mungil dari rahim Ibunda Siti Hajar bernama Ismail.

IiUjian kembali tiba, Ibu dan bayi ini harus dibawa ke sebuah lembah tandus melalui penjagaan Allah langsung bahkan kesabaran sang Ibu bolak-balik tujuh kali mencari air ternyata air zam-zam mengalir dari kaki sang bayi. Ritual ini menjadi bagian dari manasik haji yakni sa’i dari bukit Safa ke Marwa.

Sekian waktu berlalu Ayahnya harus mengorbankan dirinya untuk menaati perintah Tuhan. Keikhlasan ayah dan anak membuahkan turunnya keagungan Allah, anak itu diganti dengan domba. Jadilah sebutan Idul Adha sebagai hari raya kurban.
Kelak kedua anak beliau pun menjadi nabi yakni Nabi Ismail AS dan Nabi Ishaq AS.

Perpisahan tak terjadi bila niat kebersamaan suci Lillah maka pertemuan akan kembali dalam ikatan yang lebih kokoh pula, insyaAllah.

Kesiapaan jiwa menebar kebaikan seiring dengan sikap mawas diri, mau dan bermula dari perbaikan diri. Saling berbagi tugas bukan mendominasi tugas dan tolong-menolong meraih ridha-Nya.

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman:
Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas A’rsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.
(QS. ar-Ra’du ayat 2).

Pada penghujung tertulis potongan ayat …بِلِقَاءِ bermakna akan pertemuan. Adapula kalimat tersebut pada akhir surah Al-Kahfi ayat 110 …لِقَاءَ bermakna pertemuan juga. Maksud akhir Al-Kahfi tentang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka senantiasa berbuat kebajikan dan tidak mempersekutukan-Nya. Surah Al-Ankabut ayat 5 terdapat kalimat liqaaaAllah bermakna pertemuan dengan Allah, ketegasan akan datangnya waktu yang telah dijanjikan yakni akhirat lah tempat pertemuan abadi.

Demikian seuntai makna hari raya Idul Adha bagi umat Islam, antara lain.

  1. Keikhlasan dalam niat mengiringi amal.
  2. Kesungguhan, tekun berusaha
  3. Kurban untuk berbagi menguatkan kasih-sayang
  4. Kesabaran
  5. Kebersamaan dengan landasan iman.

Kumandang keagungan hanyalah setetes renungan nan menyejukan untuk menikmati kalam Tuhan.

Begitu banyak hal menambah rasa syukur dan hamba yang lemah berbenah diri menjadi insan mulia. Sukses menurut Allah dunia-akhirat.

Dhia el widad.com /Masayu, (Pendidik/Staf Yayasan SIT Dhia El-Wida

0Shares