Infaq Pendidikan

Selama pandemi corona anak-anak kami yang di pesantrendipulangkan dari tanggal 14 April hingga diminta untuk hadir kembali ke pesantren pada 20 Juli.

Tiga bulan lebih mereka di rumah. Didampingi Ibu Bapaknya dalam proses transfer ilmu. Karena transfer ilmu tidak boleh terhenti oleh keadaan apapun.

Sebelum anak-anak dipulangkan ke rumah, saya sudah melunasi kewajiban pembayaran semua bentuk infaq yang telah ditetapkan oleh pihak pesantren.
Padahal saat itu masih bulan April.

Kenapa saya lakukan itu. Karena bagi saya dan suami, membayar keperluan anak untuk menuntut ilmu adalah sadaqah. Sadaqah yang akan menjadikan anak kami mendapatkan ilmu dan bekal hidup.

Sebelum pandemi ataupun setelah pandemi, saya tidak tahu keadaan perekonomian kami akan seperti apa. Karena itu sebelum keadaan menjadi sulit, mumpung masih saya dan suami mengusahakan untuk bisa menyelesaikan kewajiban hingga akhir tahun ajaran.

Walaupun anak-anak di rumah, proses belajar dan menghafalnya dikembalikan kepada kami. Gak papa. Karena sebenarnya tugas mendidik anak memang harusnya kami yang melaksanakan. Guru, sekolah, pesantren adalah wasilah, membantu tugas kita sebagai pendamping anak. Jadi saya ihlas saja membayar infaq pendidikan. Karena sesungguhnya itu akan kembali dalam bentuk ilmu yang bermanfaat untuk anak kita.

Ada banyak para asatid yang bergantung pada kelangsungan pendanaan yang kita bayarkan.

Ada banyak kegiatan dan biaya operasional yang masih harus terus dilaksanakan.

Dan apabila kita para wali santri tidak melaksanakan kewajiban dalam membayar adiminitrasi, bagaimana sekolah ini bisa terus memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Saya menitipkan anak di pesantren untuk dididik, diarahkan, dibina agar menjadi orang yang berilmu, berakhlaq dan bermanfaat bagi orang banyak. Begitu besar cita-cita ini, kalau tanpa perjuangan dari kita orangtua memberikan infaq terbaik untuk mewujudkan harapan besar ini.

Biarkan sekolah, para guru, para pendidik, fokus dalam mendidik anak-anak kita tanpa harus memikirkan sandang pangan mereka. Karena ada kita, para orang tua yang akan siap memenuhi kebutuhan mereka.

Seperti kata Gus Baha
“Pandanglah anak-anak kita sebagai penerus sujud kita kepada Allah, penerus perjuangan Islam.
Jika demikian, berapapun biaya yamg kita keluarkan untuk anak, pada hakikatnya kita telah membiayai agama Allah.

Tetap semangat ya Ayah Bunda dalam berusaha mendapatkan rezki yang halal untuk memberikan pendidikan terbaik, pendidikan Alquran untuk anak-anak kita.

Insya allah, akan dimudahkanNya dalam menjemput rizki.

Amin ya rabbal alami.

Barakallahu fiikum.

Dhiaelwidad.com /Hamni Azmi

0Shares