Beribadah di Rumah Bersama Imam Muda

Oleh : Hamni Azmi

Virus Corona yang masih jalan-jalan di negeri kita, menjadikan Ramadhan tahun ini berbeda dari biasanya, kalau biasanya selalu ada kebiasaan masyarakat untuk ngabuburit sambil cari-cari makanan untuk berbuka, acara buka puasa bersama sekalian reuni dengan kawan lama, kawan kantor, anak didik ataupun kumpul keluarga besar tujuh turunan. Kegiatan Ramadhan lainnya seperti salat tarawih bejamaah, qiyamul lain, safari Ramadhan dan aktifitas lainnya yang melibatkan banyak jamaah.

Semua hal di atas mutlak tidak bias dilaksanakan pada Ramadhan tahun ini. Sedih memang, terasa banget suasana sepi, tidak terdengar lagi tadarus al qur an anak-anak di mushalla, masjid dan surau, jarang sekali kita lihat ada yang jualan makanan di pinggir-pinggir jalan. Tapi mau gimana lagi. Prosedur ini harus dilaksanakan agar semua masyarakat tetap sehat dan terjaga.

Segala sesuatu harus kita lihat dari sisi positifnya, karena semua hal pasti ada sisi kelebihan dan sisi kurangnya. Seperti juga pada keadaan saat ini.

Bagi saya dan keluarga, corona membuat keluarga kecil kami terkumpul. Karena dua anak kami setiap Ramadhan tidak bisa pulang ke rumah untuk mengikuti karantina tahfiz. Sehingga otomatis Ramadhan kami selalu dalam sepi, walaupun saya selalu menikmati apapun keadaaannya.

Tahun ini, Alhamdulillah kami ditakdirkan untuk berkumpul berlima. Si Mas yang baru satu tahun belajar di pesantren kini bisa jadi imam di rumah, bergantian dengan Bapaknya. Saat pertama kali diimamin oleh si Mas, mendengarkan suaranya dan hafalan surahnya, Masya Allah Tabarakallah, tak terasa air mata berlinang di sudut netra, ingin segera memeluknya saat itu juga, namun masih dalam keadaan salat. Hati terharu, bahagia. Terpisah selama satu tahun telah membuatnya menjadi laki-laki sempurna yang dapat menjadi imam.

Membaca doa sehabis salat tarawih dijadwalkan bergantian antara Mas dan Kaka. Mendengar doa untuk orangtua yang selalu dilantunkan di awal doa, jelas membuat saya tak mampu menahan air mata lagi. Doa yang selalu saya panjatkan juga untuk kedua orangtua setelah selesai salat. Doa yang menjadi kebiasaan bagi saya. Namun berbeda saat anak-anak yang mengucapkannya, mendoakan kedua orangtuanya yang ikut mengaminkan secara langsung.

Ya Allah syukur ini tiada tara kepadaMu karena dianugerahi anak-anak yang saleh dan salehah. Engkau jadikan anak-anak kami penyejuk hati Bapak Ibunya. Berkah Ramadhan adalah berkumpulnya keluarga kacil ini dalam balutan kasih sayang dan ibadah bersama di rumah. Nikmat mana lagi yang didustakan. Alhamdulillah.

Dhiaelwidad.com / Hamni Azmi

0Shares