Asah Kapakmu

Oleh : Hamni Azmi

Di sebuah desa adalah seorang tukang kayu yang bekerja pada seorang majikan. Pada hari pertama ia bekerja, ia sangat bersemangat dan dalam setengah hari, ia mampu menebang sebanyak 7 batang pohon.

Sang majikan pun terpesona dengan kemampuan si tukang kayu.

“Luar biasa kerjamu, Nak. Puji sang majikan. Baru hari pertama kau bekerja, sudah berhasil menebang sebanyak 7 pohon.” “Pertahankan kerjamu! “sang majikan menepuk pundak si tukang kayu.

Si tukang kayu pun merasa sangat bangga dengan hasil kerjanya. Ia yakin akan mampu memotong kayu lebih banyak lagi keesokan harinya.

Keesokan hari dengan semangat yang berapi-api ia memulai kerjanya lagi. Namun sampai waktu tengah hari, ia hanya mampu memotong 6 batang pohon saja.

Begitu seterusnya, dengan usaha yang lebih giat lagi, ia kerahkan segala kekuatannya untuk bekerja namun hingga satu pekan hasil kerjanya semakin menurun, bahkan dalam satu hari ia hanya mampu menebang sebanyak 3 batang saja.

Ia merasa kecewa dan gagal dalam mengerjakan tugasnya. Akhirnya si tukang kayu menghadap majikannya.
Ia meminta maaf karena tidak dapat memberikan hasil terbaiknya.

Sang majikan mendengarkan keluh kesah si tukang kayu. Kemudian ia menanyakan satu hal kepada tukang kayu.

“Kapan terkahir kali kamu mengasah kapakmu?”

Si tukang kayu, mengingat-ingat kapan terakhir ia mengasah kapaknya.

“Saya mengasah kapak saya satu hari sebelum mulai bekerja di tempat Bapak. Dan setelah itu saya tidak pernah melakukannya lagi.” Jawab si tukang kayu.

“Itulah permasalahannya, kamu tidak pernah mengasah kapakmu agar tajam dan dapat memotong kayu dengan cepat, padahal dengan kapak yang tajam akan menjadikan pekerjaanmu lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak.” Kata si Majikan.

Ilusterasi cerita di atas menyampaikan kepada kita bahwa kita harus terus mengasah kemampuan, meningkatkan kualitas diri. Kapak ibarat akal dan jiwa kita.

Bagaimana mengasah akal, yaitu dengan menambah ilmu yang bermanfaat.

Bagaimana mengasah jiwa yaitu dengan terus berbuat kebaikan dan mendekat kepada Allah.

Begitu pula dengan diri kita, apabila tidak diasah, tidak menambah ilmu maka kita akan terbelakang, tidak dapat mengikuti alur kehidupan.

Apabila jarang melakukan kebaikan, malas beribadah maka hati tidak akan mati.

Oleh karena agar kehidupan kita seimbang antara dunia dan akhirat. Asahlah terus kapak kehidupan kita.

Sebagimana kapak yang bisa menjadi tumpul, apabila tidak diasah. Akal dan hati juga bisa tumpul apabila tidak diasah dengan thalabul ilm dan ibadah ruhiyah.

Semoga kita terus bisa mengasah kapak kita yaitu kemampuan akal dan jiwa agar hidup menjadi bermanfaat di dunia, dan berbahagia di akhirat.
Insya allah

Wallahu’alam bissawab

Dhiaelwidad.com / Hamni Azmi

0Shares