Anak Bukanlah Hak Milik

Oleh : Umi Zulaihatun
Kepala Paudit Dhia El Widad

Seandainya setiap kita menyadari bahwa sejatinya anak bukanlah hak milik, namun anak adalah amanah yang dititipkan. Tentunya kita akan lebih berhati-hati dalam menjaga amanah ini

Ibarat kita dititipi mobil oleh seseorang dengan berkata,
“Saya titip mobil ini, nanti akan saya ambil kembali. “

Pasti kita akan merawat mobil tersebut dengan sangat hati-hati, ketika mobil tersebut kotor dengan segera membersihkannya bahkan ingin menaikinyapun tidak berani, karena merasa itu bukan milik kita. Dan suatu saat si pemilik akan datang untuk meminta pertanggung jawaban atas barang yang dititipkannya.

Begitupun dengan anak, jika kita menganggap anak bukanlah hak milik. Dan suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban atas amanah yang dititipkan.

Tentu kita akan lebih berhati-hati dalam mendidik dan mengasuh anak. Tidak akan memarahinya, tidak akan membentaknya tidak akan membandingkan dengan anak lain.
Karena sesungguhnya anak membutuhkan perasaan cinta dan kasih sayang tanpa syarat, perasaan diterima apa adanya, perasaan diperhatikan dan perasaan dihargai.

Sebagai orang tua, tidak jarang kita mengatakan “Mama sayang sama adik kalau adik nurut, atau
“Mama tu sayang kalau adik pintar.”

itu adalah kasih sayang dengan syarat padahal Allah yang menciptakan anak, pasti telah melengkapi dengan kelebihan pada anak, namun kita saja yang kurang bisa memahami kelebihan yang ada pada anak.

Tidak sedikit pula orang tua justru mematikan potensi anak, misalnya anak mempunyai kelebihan menggambar, namun karena orangtua ingin anaknya menjadi seorang penyanyi.
Sehingga orangtua memaksa anak untuk mahir bernyanyi, ketika anak tidak professional orangtua kecewa, padahal bakat menggambar yang dimilikinya jika diasah dan terus dimotivasi, bisa menjadi sesuatu yang luar biasa.

Kebutuhan biologis penting untuk anak kita namun kebutuhan psikologis jauh lebih penting, karena kurangnya kebutuhan psikologis dapat menyebabkan lemahnya konsep diri, emosi, berfikir dan belajar anak serta masalah sosial pergaulan anak.

Alquran mengingatkan bahwa anak dan harta merupakan cobaan, maka jangan sampai menyebabkan kelalaian kepada Allah SWT.

Sebagaimana firmanNya,
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
(QS. Al-Munafiqun : 9).

Tidak sedikit kita lihat kasus penyiksaan pada anak hanya karena hal yang sepele, salah satu pemicunya karena kurangnya kesabaran dan kesadaran bahwa anak bukan milik kita. sehingga semena-mena memperlakukan anak.

Dalam ayat lain Allah berfirman,
“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
(QS. Al-Anfal : 28).

Tidak sedikit kita dengar orangtua yang tega menyuruh anak mengemis dan sebagainya.

Bahkan kita sebagai orangtua salah dalam memilihkan lingkungan dan tempat belajar untuk anaknya. Karena tempat pendidikan dan lingkungan yang tidak mendukung untuk belajar menjadi anak sholeh dan sholehah, hanya sekedar bisa membahagiakan orangtua selama di dunia.

Sementara kebahagiaan yang hakiki, adalah saat anak membuat bahagia di dunia dan bahagia di surganya Allah kelak.

Rasulullah SAW memberi contoh dalam bersikap kepada anak, untuk menjaga perasaan mereka dalam setiap perkataan dan tingkah laku.

Pada suatu riwayat dikisahkan bahwa,
dalam konteks memelihara perasaan anak, Rasulullah menegur seorang pengasuh yang merenggut dengan kasar seorang anak yang kencing di pangkuan Rasulullah SAW, dalam sabdanya,

Kencing yang membasahi bajuku ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menjernihkan kekeruhan hati anak ini dari renggutanmu itu?”

Artinya, menjaga psikologis anak lebih diutamakan daripada hal lainnya.

PR kita bersama adalah membimbing anak dengan kasih sayang tanpa syarat, membimbing agar menjadi anak yang sholeh dan sholihah serta memilihkan lingkungan dan tempat belajar yang membawa kepada keselamatan dunia akhirat.

Semoga kita dibimbing Allah, menjadi orangtua yang mampu menjaga amanah dengan baik. Jika suatu saat diminta pertanggung jawaban, kita pun bisa mempertanggungjawabkannya dengan baik.

Serta adanya kekhawatiran terhadap mereka kelak jika meninggalkannya dalam kondisi lemah.

Alquran mengingatkan agar memperhatikan keluarga dan menyelamatkan mereka dari siksa api neraka.
Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka.”

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
(QS. An-Nisa : 9).

Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sholeh sholehah yang membawa kebahagiaan dunia dan akherat.

Amin Ya Rabbal alamin

Dhiaelwidad.com / Umi Zulaihatun

Kepala Paudit Dhia El Widad

0Shares